Antara PAUD dan Keadaan Politik Saat Ini

A lil’ note this evening …..

This note is just my opinion, tidak ada maksud apapun selain share pendapat mengenai ‘sesuatu’ yang ada dalam benak saya. Berkaitan dengan apa yang disampaikan oleh dosen Metodologi Pengembangan Sains Untuk Anak Usia Dini, Ir. Masitowati, M.Si, M. Ed di kelas saya hari ini …

Beliau mengingatkan kami untuk memakai metode ‘Cooperative Learning’ atau dengan kata lain ’Kerja Kelompok’ dalam melakukan kegiatan pembelajaran untuk anak usia dini. Why? Mengapa cooperative learning sangat ditekankan dalam kegiatan anak dibandingkan dengan kegiatan individual?

There are some reasons for it …

Diantaranya, cooperative learning dapat meningkatkan kemampuan anak dalam bersosialisasi, berkomunikasi, karena di dalam cooperative learning ada interaksi antara anak satu dengan anak yang lainnya. Dan point pentingnya adalah … menghindari anak dari sifat ’selfish’ .. menghindari adanya keegoisan pada diri anak.

(re : Yang harus saya informasikan disini, anak usia dini adalah anak yang berada dalam rentang usia 0 – 8 tahun, mulai lahir sampai dengan usia SD awal, kelas 3 SD). Oke, mungkin saya tidak akan membahas lebih jauh mengenai hal ini, karena persoalan yang akan saya share bukan dari sisi PAUD saja, akan tetapi ada juga sedikit dari sisi politik.

Apa hubungan antara metode belajar dengan politik?

Alhamdulillah hari ini saya bisa pulang agak cepat, sekitar jam setengah enam sore sudah berada di rumah. Dan lagi-lagi, ketika saya menyalakan televisi, koalisi partai di pemerintahan masih menjadi hot issue. Dan ’lagi-lagi’ reshuffle kabinet menjadi bahan perbincangan menarik saat ini. Dalam suatu program acara di salah satu stasiun tv berita sore ini, menampilkan beberapa narasumber. Masing-masing dari perwakilan partai D, Partai P, dan Partai G. Mereka menyuarakan pendapatnya mengenai kabar reshuffle kabinet dari ’kacamata’ partainya. Ada yang santai saja mendengar kabar ini, tidak ada masalah jika mereka tidak menjadi anggota koalisi di pemerintahan.  ada yang berbicara bahwa mereka termasuk partai koalisi yang ’berada di track’ yang benar, sehingga tidak terlalu khawatir jika reshuffle benar-benar diadakan, dan macam-macam pendapat lainnya. Masing-masing narasumber ’keukeuh’ dengan pendiriannya. Terjadi debat kecil diacara tersebut.

Saya tidak ahli di dalam bidang politik, tapi saya tetap mencoba mengikuti perkembangan politik yang ada di negara ini.

Kalau saya boleh bertanya, apa sebenarnya yang menjadi tujuan utama para wakil rakyat? Baik itu di lembaga legislatif, eksekutif ….

”menyejahterakan rakyat” katanya …

”menuju Indonesia yang lebih baik lagi” jawabnya …

Dan macam-macam alasan lainnya mungkin.

Akan tetapi, yang terlihat saat ini adalah… masing masing dari mereka seolah olah mencari aman dengan banyak keuntungan yang mereka peroleh dengan menjadi, katakanlah ’wakil rakyat’.

Maaf, saya ralat redaksinya.

Akan tetapi yang terlihat saat ini dalam pandangan saya adalah, masing masing dari mereka seolah olah mencari aman dengan banyak keuntungan yang mereka peroleh dengan menjadi wakil rakyat. Sebagai contoh, kita kaitkan dengan isu reshuffle kabinet. Ada yang berkeinginan untuk tetap menjadi anggota koalisi sehingga kursinya akan tetap ’aman’.

Semua menurut saya terlihat egois saat ini. Mencari keuntungan bagi dirinya sendiri dengan menjelma sebagai wakil rakyat. Padahal mereka tidak lagi peduli dengan apa ’pendapat rakyatnya’, apa ’keinginan rakyatnya’, dan ’apa akibat’ dari apa yang mereka perbuat disana.

Saya sangat yakin, para anggota petinggi, wakil rakyat merupakan organisator yang hebat. Buktinya mereka bisa masuk sampai tahap organisasi tingkat negara. Tolonglah ingat tujuan awal bersama dalam memimpin negeri ini (menyejahterakan rakyat , dll). Keikhlasan menjadi point penting sebenarnya. Tanpa mengharap keuntungan super saat berada di posisi itu.

Ya, menurut saya keegoisan menjadi salah satu faktor utama mengapa mereka bisa berbuat seperti ini.

Ini dia yang akan saya kaitkan dengan apa yang telah saya bahas di awal note ini.

Ketika mayoritas (saya yakin tidak semuanya) para petinggi negara, para wakil rakyat, berada di usia dini, mereka tidak terlalu familiar dengan ’cooperative learning’. Di sekolah mereka duduk satu bangku sendiri, atau mungkin satu bangku dua orang. Jarang mereka melakukan aktivitas secara berkelompok (yang juga terjadi ketika zaman saya berada di usia dini). Padahal usia dini merupakan golden age, pondasi dari karakter yang akan terbentuk nanti ketika ia dewasa.

Jika dari usia dini sudah familiar dengan bagaimana caranya menghargai orang lain, melatih kepekaan lingkungan sekitar (lewat pembelajaran cooperative learning dan metode sejenis lainnya), akan sangat kecil kemungkinannya jika dewasa menjadi pribadi yang selfish. Ciri-ciri dari orang yang egois adalah, memikirkan dirinya sendiri, hanya mencari keuntungan, kemenangan. Respect each other, tidak bisa kita ajarkan hanya melalui text book, lewat pelajaran PPKN misalnya. Selalu ada bab mengenai kerjasama, tanggung jawab, toleransi, dll. Hal-hal itu tadi merupakan hal abstrak, tidak dapat dilihat kecuali dilaksanakan. Dan salah satu cara mudah dalam mengajarkan hal-hal abstrak tadi dengan mengenalkan kerjasama.

Saya tidak menyalahkan sistem pembelajaran yang dulu, karena mungkin perkembangan ilmu saat itu belum melihat urgensi dari belajar secara bekerjasama ini. Akan tetapi… saya akan berusaha untuk mengamalkan apa yang saya terima dengan sebaik mungkin. Dengan harapan apa yang terjadi pada saat ini tidak akan terulang kembali, karena para anak di generasi yang akan datang akan memperoleh pendidikan yang lebih baik lagi.

Lewat anak-anak yang dapat tumbuh dengan baik, dilingkungan yang baik, Insya Allah mereka akan menjadi pemimpin pemimpin bangsa yang dapat merubah negara ini jauh lebih baik lagi, Amin Yaa Rabb. Do’akan saya ya teman-teman :’)

HIDUP ANAK INDONESIA !!

Nb : maaf jika banyak sekali kata kata emotif disini, selain itu juga terdapat banyak kalimat yang tidak koheren. Hanya sekedar ingin berbagi apa yang saya pikirkan MySpace

Posted on 02/03/2011, in opinion. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Kata kata terahir itulah yang memotifasi saya untuk bergerak mudah mudahan dengan bantuan temen temen di forum keinginan saya untuk mendirikan child care bisa terealisasi. Setidaknya anak anak Indonesia di masa depan mempunyai moral yang mulia , tidak egois like to share with others dan patriotik.

    Niat baik bila di campur politic akan jadi seperti nila setitik rusak susu sebelanga. politic sangat bagus jika tujuannya bener bener mensejahterakan rakyat. itulah tugas para wakil rakyat kita.

    Jangankan dana PAUD mau ketemu kepala dinas aja harus menunggu berminggu minggu saking sibuk traveling terus.

    Hidup anak indonesiaku !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: