3 Langkah Pertama Metode Penelitian Kuantitatif

Sebagai seorang mahasiswa yang diharapkan dapat menguasai pengetahuan yang berhubungan dengan anak usia dini, Mahasiswa yang berasal dari PG PAUD tentu harus mengerti bagaiman melakukan penelitian guna mengembangkan bidang keilmuan PAUD.

Bagaimana cara mengembangkan dan memperoleh ilmu pengetahuan mengenai PAUD? Ini bisa disebut juga sebagai Epistimologi. Dalam hal ini ada 2 cara untuk mengkaji demi memperoleh pengetahuan ilmiah dalam bidang PAUD, yang pertama dengan Pendekatan Positivistik, dan cara yang kedua adalah dengan Pendekatan Naturalistik.

Dalam pendekatan positivitik, masalah dapat diukur secara kuantitatif. Langkah dari pendekatan positivistik ini biasa diingat dengan ’LHV’, dimana masing-masing huruf tersebut merupakan singkatan dari Logico, Hipotetico, dan juga Verifikatif. Logico yang berarti saat menalaah masalah menggunakah logika, kemudian hasil penelaahan tadi disimpulkan dalam suatu hipotesis, yaitu dugaan sementara, serta akhirnya akan di uji (diverifikasi) dengan sejumlah data dan fakta yang ada.

Bagaimana dengan detail dari alur dalam penelitian ilmiah itu?

Dari yang telah dipelajari sampai saat ini, ada 5 langkah dalam penelitian ilmiah itu sendiri. Dan pada kesempatan ini akan diuraikan 3 langkah awal terlebih dahulu.

Mengajukan Masalah

Mengajukan masalah untuk suatu penelitian ilmiah tidaklah mudah, dalam artian tidak semua masalah dapat dikategorikan sebagai ’masalah ilmiah’. Dalam bidang ilmu PAUD, tentu masalah dapat kita temukan dalam objek yang dipelajari dalam ilmu KePAUDan, baik objek formal ataupun objek material. Sebagai contoh, kita dapat mengambil masalah yang tentu ada hubungannya dengan interaksi yang bersifat edukatif antara pendidik paud dengan anak usia dini (objek material). Selain itu juga dapat kita temukan baik di Keluarga, sekolah, maupun masyarakat yang merupakan objek formal.

Yang perlu diperhatikan adalah, masalah dapat kita temukan ketika kita memiliki kepekaan pada saat observasi. Observasi dapat dilakukan dalam mengamati orang lain. Bahkan bisa juga dengan mengamati diri kita sendiri. Apa yang terjadi pada diri kita, kita dapat merefleksi diri serta  analisis apa penyebab terjadinya masalah dalam diri kita.

Jika kita telah mengambil suatu permasalahan, pastikan kita mengetahui latar belakang mengapa kita mengambil hal tersebut sebagai masalah yang akan kita teliti. Ini sangat penting, karena selanjutnya kita akan mengidentifikasi masalah tersebut, merumuskan masalah, dan juga kita dapat mengetahui apa kegunaan dari penelitian yang akan kita lakukan terkait dengan masalah yang kita ambil. Baik kegunaan secara teoritis, dan juga kegunaan secara praktis. Selain itu, melalui latar belakang masalah, peneliti akan menunjukan hakikat masalah yang akan ditelitinya dengan cara menggambarkan apa yang seharusnya terjadi secara ideal dengan apa yang terjadi sebenarnya di lapangan secara fakta.

Penyusunan Kerangka Teoritis dan Pengajuan Hipotesis

Di langkah kedua ini, alur yang terjadi setelah kita menemukan masalah ialah, kita mengkaji masalah dengan berpedoman kepada Khazanah Pengetahuan Ilmiah (KPI) dan dilanjutkan dengan menyusun kerangka berpikir.

Perlu diingat, walaupun kita menggunakan KPI sebagai pedoman dimana kita memberikan penjelasan atau gambaran mengenai teori yang telah teruji sebelumnya, bukan berarti kemudian kita mengumpulkan berbagai macam teori saja. Akan tetapi kita juga harus memilih berbagai teori yang ada secara selektif untuk membangun kerangka argumentasi secara sistematik.

Dalam proses penyusunan kajian teoritik ini, kita sebagai peneliti harus memperhatikan beberapa syarat berikut ini :

–          Teori-teori yang akan digunakan harus merupakan pilihan dari sejumlah teori yang dikuasi lengkap oleh peneliti itu sendiri.

–          Teori-teori yang akan digunakan harus sudah mencakup perkembangan baru dalam bidangnya, tentu dalam bidang PAUD jika kita berada di wilayah PGPAUD.

–          Teori yang ada dari hasil pilihan tadi hendaknya dapat menganalisis permasalahan yang ada.

Alur selanjutnya adalah menyusun kerangka berpikir. Kerangka berpikir merupakan alur berpikir peneliti dalam melihat dan menggambarkan hubungan antara fenomena atau variabel yang telah ditelaah secara teoritik.

Tentu kerangka berpikir ini masih merupakan penjelasan sementara sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis. Hipotesis merupakan jawaban atau dugaan sementara yang masih harus diuji (diverifikasi) kebenarannya.

Ada 3 persyaratan mengenai hipotesis dari Borg dan Gall, yaitu :

a.       hipotesis harus dirumuskan dengan jelas

b.      hipotesis harus nyata menunjukan adanya hubungan antara 2 variabel atau lebih.

c.       Hipotesis harus di dukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau dari hasil penelitian yang relevan.

Metodologi Penelitian

Pada langkah ketiga ini, kita mengungkapkan tujuan penelitian kita, kemudian tempat dan waktu penelitian, metode yang digunakan seperti apa, karena metode penelitianpun terdapat beberapa macam. Metode penelitian deskriptif, korelasi, expost facto dan juga eksperimen.

Dan juga dalam langkah ketiga ini, sebagai peneliti kita jelaskan pula bagaimana teknik pengambilan sampel, pengumpulan data, serta teknik analisis daa yang mungkin akan berhubungan dengan statistika.

~ shared by anakpaud🙂

Posted on 01/03/2011, in METLIT KUANTITATIF, Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: